Jaman Kerajaan
Pada jaman kerajaan Majapahit, pusat pembuatan batik pada waktu itu berada di daerah Mojokerto dan Tulung Agung.
Jaman Kolonial
Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu.
Setelah Kolonial
Pada jaman ini, terutama setelah Perang Dunia ke-2, gaya encim yang di kembangkan oleh peranakan Tionghoa tidak banyak berubah
Sejarah Batik
Kata batik berdasarkan etimologis (asal muasal kata) nya, merupakan gabungan dari dua kata bahasa Jawa, yakni ‘amba’ yang bermakna menulis, dan ‘titik’ yang bermakna titik.. Menurut Kuswadji, batik berasal dari kata “Mbatik”, yaitu ‘mbat’ (ngembat: melemparkan) dan ‘tik’ (titik).
Dalam artian sederhana, yang dimaksud dengan kata batik atau mbatik adalah melemparkan titik berkali-kali pada kain. Sedangkan menurut Soedjoko, batik berasal dari bahasa Sunda. Dalam bahasa Sunda, batik berarti menyungging pada kain dengan proses pencelupan. Istilah ini ditemukan dalam Babad Sengkala (1633) dan Pandji Djaja Lengkara (1777).
G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Hal tersebut tentu mengejutkan mengingat bahwa bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme walaupun diketahui memiliki tradisi kuno membuat batik. Sedangkan menurut catatan sejarah, batik di Jawa mulai berkembang pada zaman kerajaan Majapahit.
Wang Dayuan, seorang pedagang dari dinasti Yuan yang pernah melakukan perjalanan ke perairan Asia Tenggara pada awal abad ke-14, telah menulis Daoyi Zhilue (yang dilengkapi pada 1349) bahwa orang-orang di Jawa Timur telah mampu membuat kain dengan kualitas dan warna yang bagus. Sayangnya naskah Wang Dayuan ini tidak menyebutkan secara detail pembuatan kain ini.
Legenda lain tentang batik pun muncul, yakni tertulis dalam literatur Melayu abad ke-17. Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa. Oleh beberapa penafsir, serasah itu ditafsirkan sebagai batik.
KRT Hardjonagoro, ahli tentang batik menyatakan bahwa batik sebagai seni mulai berkembang pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo dari kerajaan Mataram pada awal abad 17.
Kata batik berdasarkan etimologis (asal muasal kata) nya, merupakan gabungan dari dua kata bahasa Jawa, yakni ‘amba’ yang bermakna menulis, dan ‘titik’ yang bermakna titik.
Penyelusuran batik dengan ke-khas-annya masing-masing di wilayah Nusantara.







